Gue resmi jadi sarjana pengangguran mulai 14 Januari 2019 kemarin. Background gue IT dengan bekal skill yang cetek sekali, pemrograman dasar sekali (pokoknya gue bisa CRUD, itu sudah luar biasa sekali), jaringan komputer dikit-dikit bener dikit-dikit bloon, sok sok an jago desain, bongkar laptop cuma buat bersihin fan, ganti ram, ganti baterai, sama oles-oles pasta, udah gitu aja. Sungguh dasar sekali skill kehidupan IT gue. Setelah resmi menganggur, rasa-rasanya keluarga ini menaruh harapan besar ke gue untuk segera mendapat kehidupan yang normal sebagaimana mestinya manusia-manusia muda yang dibanggakan para ibu untuk dijadikan bahan gibah di arisan. Dan, gue mulai gencar ke sana kemari untuk mencari para pengangguran beringas,
Via online.
Gue buat CV, lamaran kerja, dan gue sebar tuh via jobs.id, jobstreet, linkedin, glints dll. Sabar menanti sambil menaikkan level pribadi di game heroes evolved, akhirnya nyangkutlah satu,
Alhamdulillah.
Gue ditelpon dan dengan rasa antusias yang meluap menjawab pertanyaan apakah anda bersedia mengitui psikotest jam hari sekian, tentu saja gue menjawab dengan mantap, IYHA!. Awal-awal gue belum pernah tuh mendalami perusahaan-perusahaan apa yang gue lamar, demikian dengan tawaran kerja ini, yang gue tahu itu perusahaan finance. Gue datang ke kantor tes paling akhir. Posisi yang gue lamar adalah management trainee, kesimpulan gue, kalo ketrima disini pasti nanti di training dulu baru diposisikan sesuai kemampuan nya. Lanjut lanjut lanjut, gue lolos dong psikotest nya dan langsung diberitahu untuk langsung interview hari itu juga, gila ga tuh, ada apa gerangan.
Usut punya usut, ternyata nilai gue tertinggi ke dua dari 45 pendaftar. Ternyata gue bisa kalo sedikit berusaha serius. Singkat cerita, si user ini menganalisis kalo gue cocok di bagian general affair dan akan ditraining untuk dijadikan ketua divisi GA. Gila dong, gue aja ga paham GA itu apa.
Dengan rasa senang yang meluap-meluap, gue pun menelpon orang rumah kalo gue akan tanda tangan kontrak keesokan harinya di perusahaan B. Gue cerita panjang lebar, orang rumah ikutan seneng. Setelah menelpon orang rumah, sekitar 30 menitan, orang rumah nelpon lagi kalo gue sebaiknya ga terima itu kontrak kerja.
Kenapa ?,
Kata paman gue yang seorang dosen di Universitas negeri di NTT sana, perusahaan finance sekarang pasti ada aktivitas leasingnya, jadi itu menyalahi aturan agama. Dengan pemahaman yang sedemikian rupa, gue pun memahami apa yang disampaikan, dan berusaha untuk tidak melanjutkan proses kontrak kerja di perusahaan B.
Berusaha untuk menebar lagi, satu lagi nyangkut di suatu software house daerah M. Singkat cerita, gue lolos sampai tahap akhir interview. Dan disini gue memutuskan untuk tidak melanjutkan proses selanjutnya. Selama interview, si CEO mengatakan budaya perusahaan dan karyawan disana sangat fleksible, seperti startup pada umumnya. Benefitnya pun tidak main-main, bisa umroh. Setelah penjelasan panjang lebar, akhirnya ada jeda istirahat. Gue keluar dari ruangan dan mulai menyapa dan tanya-tanya karyawan-karyawan disana. Awal sih biasa aja, mereka sopan dan menjawab pertanyaan dengan enak dan friendly. Tapi anehnya, ada beberapa kumpulan karyawan seperti sedang melihat gue dan menunjuk-nujuk gue dengan jarinya dengan jelas. Gue orang yang sensitif, jelas sekali terlihat kalo ada beberapa dari mereka yang sepertinya tidak menyukai kehadiran saya disana. Gue pun ga ambil pusing, dan lanjut interview lanjutan sesi selanjutnya. Singkatnya, besoknya gue bisa tanda tangan kontrak kerja dan bisa langsung kerja. Gue keluar dari ruangan, lewat lorong tangga, dan menyapa kumpulan karyawan tadi dengan sopan. Dan..
Sebagian besar dari mereka tidak menjawab bahkan tidak menoleh ke arah gue dan fokus merokok. Gue ga tau kesalahan gue ke mereka, dan gue ngerasa kalo belum pernah buat salah ke mereka, jadi apa artinya?. Semalaman gue mikir kenapa mereka bersikap seperti itu. Apa karena permasalahan "penyakit" gue yang sedikit membuat mereka tidak nyaman. Entahlah.
Dan hal tersebut membuat gue memutuskan untuk tidak melanjutkan proses kontrak.
Terlihat seperti hal yang sepele, tapi gue pribadi kurang suka kepada orang yang tidak membalas rasa hormat orang kepada rasa hormat orang lain. Artinya, mereka memiliki penilaian yang dangkal terhadap orang lain.
Monggo yang pingin tertawa dengan idelisme gue, monggo.
Ada lagi cerita dari proses rekrutmen pabrik di kabupaten L yang tidak ingin gue ceritakan lagi, karena kalo cerita jadi ngerasa dongkol sendiri gue.
Akhirnya, gue cerita semua itu ke temen gue. Dan tanggapan dia luar biasa bikin dongkol juga,
"Ga ada akhlak lu, ga ada rasa terima kasih lu ke Tuhan, rejeki ditolak, goblog".
Yah, gue hanya bisa bacot "lu nyaman ga kerja kalo lingkungan kerja ga mendukung sisi pribadi lu?",
Dia menjawab, "ya lu juga harus nya nyadar, lu fresh gradute, kalo lu cuma makan idealisme, lu bakal mati".
Dan panjang bacotan antara kami berdua, sampai akhirnya kami bermain PES bersama. Yah intinya, gue sadar kalo idealisme kadang ga bisa diharapin di banyak situasi, tapi pribadi masing-masing orang kan beda-beda. Jadi, mau gimana lagi?
Monggo yang pingin tertawa dengan alasan-alasan klise di atas, dipersilahkan.

Komentar
Posting Komentar